Pernahkah kamu merasa berjalan dalam gelap? Melangkah, tapi tak tahu ke mana. Bertanya, tapi tak ada jawaban. Berharap, tapi yang datang hanya sunyi.
Aku pernah
Aku pernah mencari-cari makna di balik setiap luka, menggenggam erat harapan yang perlahan memudar. Aku bertanya berkali-kali, kenapa ini harus terjadi padaku? Aku mencoba memahami, mencoba berdamai, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ada sebabnya. Tapi semakin aku mencari jawaban, semakin aku tersesat.
Ada sesuatu yang pelik tentang kehilangan—ia bukan hanya tentang sesuatu yang pergi, tapi juga tentang kekosongan yang tertinggal. Aku merasa seperti menggapai sesuatu yang tak bisa kuraih, semakin mendekat, semakin menjauh. Aku berusaha melawan, bertahan sekuat tenaga. Namun semakin aku melawan, semakin aku lelah. Semakin aku berusaha mengerti, semakin aku kehilangan diriku sendiri.
Sampai akhirnya aku berhenti.
Mungkin ini bukan tentang menemukan jawaban. Bukan tentang meminta dunia agar mengerti. Bukan tentang mempertanyakan kenapa dan mengapa.
Mungkin ini tentang menerima. Tentang melepaskan genggaman yang terlalu erat pada apa yang seharusnya kulepaskan. Tentang berserah, membiarkan segala tanya mengurai ke udara. Aku mulai memahami bahwa tak semua tanya membutuhkan jawaban, tidak semua kehilangan harus dimengerti. Kadang, memaksa mencari arti hanya membuatku semakin jauh dari ketenangan.
Seperti air yang semakin keruh ketika terus diaduk—mungkin yang kubutuhkan bukan mencari jawaban, tapi berhenti mengusik.
Jadi, biarkan saja. Biarkan waktu berjalan, membawa jawaban atau mungkin hanya perasaan lapang untuk menerima bahwa beberapa pertanyaan memang tidak perlu dijawab.
Dan mungkin… memang ada hal-hal yang tak perlu dimengerti, membiarkannya berlalu, melanjutkan hidup dengan penerimaan untuk yang telah lalu. Karena barangkali menemukan jawaban justru akan semakin menyulitkanku.
Komentar
Posting Komentar